Minggu, 27 Februari 2011

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

SD Masehi PSAK Poncol Semarang
Menerima Pendaftaran Peserta Didik Baru 
Tahun Pelajaran 2011/2012
Bagi para Bapak dan Ibu yang putra-putrinya saat ini pada masa usia TK atau usia sekolah
Akan mencari sekolah lanjutan????
Bingung mencari sekolah untuk putra-putrinya?????

SD Masehi PSAK Poncol 
Adalah jawaban permasalahan yang Anda hadapi, 
Merupakan Sekolah yang berada strategis di tengah kota, 
Akses transportasi mudah,
Bebas Banjir, 
Mempunyai fasilitas yang baik,
Tenaga Guru Profesional,
TERAKREDITASI A.

Daftarkan SEGERA...........
Melalui jalur :
           1. KHUSUS 
               Bagi siswa-Siswi dari TK Masehi Poncol BEBAS uang pangkal.

           2. CEPAT
               Bagi calon siswa-siswi yang mengembalikan Formulir sebelum Mei.

           3. REGULER
               Pendaftaran dari bulan Maret - Juni 2011.

Syarat:
1. FC. Akta Kelahiran
2. FC. Kartu Keluarga
3. FC. Ijazah TK <JIKA PUNYA>
4. Pas Photo ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar.
5. Mengisi FORMULIR PENDAFTARAN.
    # Formulir Dapat di Dapat Di SD Masehi PSAK Poncol #



DAFTARKAN DI :
SD Masehi PSAK Poncol Semarang
Jl. Imam Bonjol 138 Semarang (Sebelah Kantor Perikanan).
PADA JAM KERJA 
Atau Call 
kantor : (024) 3569586
Dra Sajini : 085866751104
Kunyati : (024)70879771

Kamis, 07 Oktober 2010

AGEN PERDAMAIAN

Guru adalah Agen Perdamaian
Rabu, 6 Oktober 2010 | 07:37 WIB
shutterstock
Ilustrasi: Kepala sekolah kerap melakukan tekanan-tekanan terhadap guru-guru kritis dengan secara lunak dan kasar. Jika di sekolah swasta pasti dilakukan pemecatan oleh yayasan, di sekolah negeri pasti dimutasi ke daerah terpencil.
JAKARTA, KOMPAS.com - Guru perlu aktif mempromosikan nilai-nilai kewarganegaraan, perdamaian, dan keberagaman. Sebab, guru mengemban misi menyiapkan generasi penerus bangsa yang bertanggung jawab.

Guru juga harus membekali muridnya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup.

Hal itu merupakan bagian dari seruan bersama para pemimpin lembaga internasional untuk memperingati Hari Guru Internasional yang jatuh pada hari Selasa (5/10/2010).

Seruan bersama di Jakarta itu datang dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa- Bangsa (UNESCO), Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef), Program Pembangunan PBB (UNDP), Organisasi Buruh Internasional, dan Education International.

Para guru berperan untuk membangun harapan bangsa yang ingin memiliki generasi cinta damai dan hidup harmonis dalam keragaman. Sebab, banyak anak-anak saat ini mengalami trauma akibat menyaksikan kekerasan yang ekstrem, mengalami kehancuran rumah, dan kehilangan anggota keluarga.

Seruan dunia kepada guru itu, kata Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia Suparman, amat relevan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia saat ini. Guru perlu ikut aktif memulihkan kondisi sosial masyarakat dengan mengampanyekan penghentian segala bentuk kekerasan dan konflik. Di sekolah, guru harus menerapkan sikap antidiskriminasi dan memahami keberagaman.

Pengamat pendidikan HAR Tilaar mengatakan, gesekan-gesekan sosial sering terjadi sebagai konsekuensi masyarakat Indonesia yang semakin tidak mengenal budaya Nusantara.

Pendidikan nasional tidak lagi memperkuat kebudayaan bangsa yang seharusnya diajarkan di sekolah. Ini terjadi karena pemerintah tak lagi menyatukan kedua unsur itu dalam satu departemen: pendidikan dan kebudayaan.

Tilaar menegaskan perlunya memperkuat pendidikan multikulturalisme di sekolah. Upaya itu penting untuk membentuk generasi muda yang mampu menghargai perbedaan budaya, agama, dan suku, serta keragaman lainnya.

”Pendidikan yang didesentralisasikan justru bisa mengancam. Bagaimana mau menyatukan bangsa Indonesia kalau guru terpaku di satu daerah. Ini karena guru sekarang jadi milik bupati atau wali kota,” katanya.

Setelah berbagai konflik melanda Indonesia berlatar belakang perbedaan agama dan suku, guru-guru mulai menyadari pentingnya membekali siswa dengan pendidikan damai.

Pendidikan damai


Seperti di Sulawesi Tengah dan Maluku, guru-guru yang difasilitasi World Vision Indonesia melalui Wahana Visi Indonesia (WVI) mengembangkan pendidikan damai yang dinamakan pendidikan harmoni.

”Pendidikan harmoni merujuk dari pendidikan damai. Kami ingin memastikan nilai-nilai perdamaian, kemanusiaan, hak asasi manusia, multikulturalisme, dan perlindungan anak terintegrasi dalam kurikulum SD,” kata Frida Siregar, staf WVI untuk Pendidikan Damai Wilayah Sulawesi dan Maluku.

Pendidikan harmoni lahir dari semangat penyatuan dalam keberagaman. Kompetensi nilai harmoni yang dikembangkan adalah harmoni diri (tanggung jawab, keyakinan pada ajaran agama, kepercayaan); harmoni sesama (penghargaan, kejujuran, kepedulian); serta harmoni alam (ramah lingkungan, melindungi, kewarganegaraan).

Menurut Frida, dari hasil penelitian awal WVI di Palu dan Poso tahun 2009 ditemukan bahwa pemahaman akan perbedaan suku dan agama yang ada di masyarakat masih lemah. Masih ditemukan anak dengan agresivitas tinggi, rasa dendam, dan enggan berinteraksi dengan teman yang berbeda agama.

Di Palu, 35 persen anak menyatakan tidak mau berteman dengan mereka yang berbeda agama dan 14,2 persen tidak tahu. Di Poso, 10,8 persen anak tidak mau berteman dan 15 persen tidak tahu. (ELN)